Setiap oramg selalu bahagia mengingat masa kecilnya. Melihat foto semasa bayi hingga dewasa. Melihat betapa lugu dan polosnya saat kecil. Melihat bahwa masa-masa itu sangat bahagia. Melihat bahwa masa-masa itu tidak ada masalah sama sekali. Sayang, hal itu tidak terjadi padaku. Aku tidak pernah berpikir bahwa foto-foto itu akan sangat berharga. Baru kusadari ketika dewasa, bahwa aku tidak memiliki kenangan masa kecil yang berharga. Tidak ada yang memberitahuku bagaimana aku di waktu kecil. Bagaimana orangtuaku menyayangiku pun tidak ada yang memberitahuku. Baru kusadari bahwa semua orang menutup-nutupi semua hal yang terjadi ketika aku lahir sampai aku masuk TK. Aku bahkan tidak tahu kalau aku nyaris mati sewaktu umur 6 atau 8 bulan karena diare parah. Aku hanya tahu jika semasa kecilku aku orang yang sakit-sakitan. Kelur masuk rumah sakit adalah makananku waktu itu. Suntik sana suntik sini, sampai aku ingat ak prnah disuntik hampir setiap hari atau bahkan dua kali sehari dan aku menghitungnya, menganggap bahwa itu adalah guyonan semata. Aku tidak pernah tahu bahwa sewajarnya yang mengurusiku adalah seorang mama. Selama ini yang kutahu, papa yang setia buat mengurusiku, papa yang selalu perhatian padaku dengan memarahiku, papa yang dengan rela mengorbankan waktu kerjanya untukku dan mama, papa yang dengan rela membolos sebentar demi menjemputku sekolah. Aku tidak pernah tahu, karena semua ini telah menjadi kebiasaan. Semua kebiasaan ini berubah ketika aku mulai bisa berteman dengan banyak orang. Aku mulai tahu bahwa mama dari teman-temanku begitu perhatian pada anaknya. Mama mereka adalah mama yang rela memberikan pundaknya untuk bersandar, memberi nasehat untuk masalah anaknya, memberikan kecup juga peluk hangat di kala anaknya sedih, senantiasa memberikan doa agar anaknya mendapat yang terbaik, dan masih banyak lagi. Sosok mama-mama mereka adalah mama yang menjadi sahabat, teman, saudara, pokoknya all in one jadi satu. Tapi itu tidak kutemukan dalam sisi mamaku. Ketika aku bersedih aku hanya bersandar padaku sendiri *tentu aku bersandar pada Tuhan juga tapi jika di dunia ini aku hanya bersandar pada diriku sendiri* awalnya aku merasa ini hal yang wajar, tapi ternyata tidak. Hal ini mendidikku menjadi pribadi yang sangat tidak peka. Aku menjadi pribadi yang sama seperti papa, laki-laki. Aku menjadi perempuan yang sangat kuat seperti tidak pernah menangis atau bersedih. Semua yang dilihat padaku hanyalah canda tawa dan senyuman. Semua melihatku seperti pribadi yang baik yang penuh canda tawa, careless, carefree. Tidak ada yang tahu tawa itu mengandung makna tersendiri. Aku tidak ingin mengingat semua hal kelamku. Maka dari itu aku ingin bahagia, maka aku tertawa. Namun rupanya ini tidak cukup. Canda tawa ini tidak cukup membuatku bahagia. Entah kenapa masih ada lubang besar menganga dalam diriku. Aku tahu aku harus bersyukur aku tahu aku harus menyerahkannya pada Tuhan. Tapi aku juga tetap manusia biasa, yang mempunyai batas. Mungkin inilah batasku, batas untuk bisa bertahan sendiri. Jika begini ingin sekali aku seperi teman-teman yang lain melihat foto masa lalu dan tersenyum-senyum malu mengingatnya. Sayang foto-foto itu tak ada untukku. Yang kudengar mama sudah membakarnya. Namun aku juga mendengar bahwa foto-foto itu tidak pernah ada. Foto menjadi hal yang mewujudkan kenangan-kenangan yang ada. Namun itu sudah tidak ada. Kembali kuingat foto-foto pernikahan mama dan papa. Aku tidak pernah melihatnya juga. Yang kutahu, foto-foto itu ada banyak, tapi sebagian besar sudah dibakar mama. Mungkin bagi kalian yang membaca ini akan menganggap bahwa papaku orang yang jahat hingga mama membakar foto-foto peenikahannya. Sayangnya tidak. Kelainan yang di derita mama yang membuat mama membakar foto-foto itu. Jika aku mengingatnya aku merasa sedih. Hal yang seharusnya membuatku bahagia berubah menjadi sebuah kesedihan. Belum lama kujumpai sisa-sisa foto yang terbakar itu, tak terasa tangisku tumpah, air mataku meleleh seketika. Aku melihat bagaimana suasana pernikahan sewaktu itu. Bahagia. Namun entah kenapa aku tidak melihat ada senyum mama. Pandangan mama kosong senyumnya hampa. Jika melihat hal itu, aku seperti menyesal telah lahir di dunia ini. Mungkin kalau saja aku tidak ada, mama tidak akan begini. Selalu itu yang aku pikirkan. Pernahkah mama memikirkan hal yang kurasakan? Aku tidak menginginkan apapun dari mama...aku hanya ingin mama berhenti ikut campur urusan orang lain. Aku ingin mama perhatian dan sayaaaang dengan aku dan papa seutuhnya. Tak peduli seberapa sulit dunia akan menghalangi mama, tapi mama tetap sayang dan peduli padaku lebih dari orang lain juga selalu ada untukku, hanya itu yang kuinginkan tidak lebih. Itu yang akan membuatku kuat. Itu yang akan menjadi dasar hidupku untuk bertahan. Ma, kalau mama baca ini, aku mohon ma, mama jangan marah-marah lagi, ngamuk-ngamuk lagi, mama cukup sayangi Clara, dukung Clara sejelek atau sebagus apapun Clara. Dengan begitu Clara bisa semakin kuat dan bersemangat untuk bahagiakan mama, papa, dan semua orang. Bantu Clara, Ma. Karena Clara sayang mama. Sebenci dan sesebel apapun Clara sama mama, Clara tahu tanpa mama Clara nggak bisa ada di dunia. Clara tahu karena Clara mama harus sakit melahirkan Clara. Jadi Clara mau bahagiakan mama, tapi mama juga bantu Clara jangan biarkan Clara jalan sendiri ma.
Clock
Calendar
Sabtu, 21 Maret 2015
Langganan:
Postingan (Atom)